Beras di Indonesia bukan sekadar makanan pokok, melainkan simbol kehidupan. Dari Sabang sampai Merauke, hampir setiap rumah memasak nasi setiap hari. Di balik butir nasi itu, ada perjalanan panjang yang melibatkan petani, pasar, hingga Bulog sebagai penjaga stok pangan nasional. Namun, perjalanan ini tidak selalu mulus. Kita sering mendengar kabar stok beras rusak, menumpuk terlalu lama di gudang, bahkan ada laporan sekitar 300 ribu ton beras Bulog mengalami kerusakan dengan potensi kerugian mencapai triliunan rupiah. Kasus-kasus beras berkutu, busuk, atau kehilangan mutu akibat terlalu lama disimpan menunjukkan bahwa menjaga beras bukan hal sederhana.
Di titik inilah kita bisa belajar dari kearifan lokal yang selama ratusan tahun telah dijalankan oleh masyarakat adat. Mari kita menengok ke tanah Banten, ke kampung Suku Baduy yang punya tradisi luar biasa dalam mengelola padi. Bagi mereka, padi bukan hanya pangan, tetapi bagian dari ruh kehidupan yang harus dihormati. Mereka menyimpan hasil panennya dalam leuit, lumbung kayu tradisional yang dirancang dengan arsitektur alami, tahan terhadap hama, kelembaban, bahkan perubahan cuaca. Tidak ada pestisida modern, tidak ada mesin pendingin, tapi dengan prinsip kesederhanaan dan kedekatan dengan alam, padi bisa bertahan puluhan tahun tanpa rusak. Filosofi yang mereka pegang adalah bahwa padi tidak boleh dijual sembarangan, apalagi ditimbun untuk keuntungan pribadi. Ia harus dibagikan sesuai kebutuhan, dijaga dengan hati, dan tidak boleh diperlakukan hanya sebagai komoditas.
Jika kita bandingkan dengan kasus di Bulog, di mana beras menumpuk hingga setahun lebih di gudang besar dan akhirnya rusak, jelas terlihat perbedaan nilai. Bulog beroperasi dengan sistem modern, gudang beton, dan regulasi teknis. Tetapi tanpa nilai kedekatan, tanpa rasa hormat pada beras itu sendiri, teknologi canggih sekalipun bisa kalah oleh kearifan sederhana. Data resmi menunjukkan bahwa pada April 2025, dari lebih 2,3 juta ton stok beras Bulog, sekitar 436 ribu ton sudah berusia 7–12 bulan dan 55 ribu ton lebih dari setahun. Padahal kita tahu, semakin lama disimpan tanpa perawatan yang baik, semakin besar kemungkinan mutunya menurun.
Dari situ muncul pertanyaan kritis: apakah pola penyimpanan yang lambat dan menumpuk ini sekadar kelemahan manajemen, atau ada pola lain yang lebih dalam? Publik kerap curiga, kerusakan beras di gudang seolah menjadi pembenaran untuk membuka keran impor. Tahun 2024, misalnya, Indonesia mengimpor lebih dari 3,7 juta ton beras, jumlah yang cukup besar untuk negara produsen padi. Ketika stok lama dibiarkan turun mutu hingga tak layak konsumsi, muncul celah narasi bahwa “kita kekurangan beras”, padahal kenyataannya produksi petani dalam negeri masih ada. Pola semacam ini menimbulkan kecurigaan bahwa impor bukan semata solusi darurat, melainkan strategi yang dipaksakan.
Pemerintah bisa belajar banyak dari cara Suku Baduy menjaga leuit mereka. Prinsip first in first out sebenarnya bukan hal baru, tapi dalam tradisi adat itu sudah menjadi kebiasaan turun-temurun. Padi yang lebih dulu dipanen juga lebih dulu dipakai. Lumbung tidak dibiarkan penuh tanpa rotasi. Ada kesadaran bahwa menyimpan berlebihan justru bisa menimbulkan kerusakan. Dengan demikian, sistem distribusi mereka berjalan alami, tidak ada padi yang sia-sia, dan tidak ada energi terbuang.
Bagi Bulog, yang bertanggung jawab pada ketahanan pangan bangsa, belajar dari nilai ini sangat penting. Profesionalisme, SOP, dan pengawasan memang harus ditegakkan. Tapi nilai yang lebih mendasar adalah rasa hormat pada beras sebagai titipan kehidupan. Jika Suku Baduy bisa menjaga padi dengan arif selama puluhan tahun tanpa rusak, mengapa kita yang memiliki teknologi dan dana besar justru membiarkan jutaan kilogram beras membusuk di gudang, lalu dengan cepat berlari ke opsi impor?
Kegagalan Bulog di masa lalu seharusnya jadi pelajaran untuk masa depan. Rotasi stok harus lebih disiplin, distribusi harus lebih lincah, gudang harus lebih hidup, bukan hanya tempat menimbun. Transparansi dan akuntabilitas juga perlu, karena setiap karung beras yang rusak berarti hilangnya hak rakyat untuk mendapatkan pangan yang layak. Dan lebih dari itu, kita butuh menanamkan kembali nilai kearifan: beras bukan sekadar komoditas, melainkan simbol ketahanan dan keberlangsungan hidup.
Bulog hari ini berada di persimpangan. Ia bisa terus menjadi sekadar mesin birokrasi yang menyimpan beras di gudang raksasa dan membuka celah impor ketika stok gagal dikelola, atau ia bisa berubah menjadi lembaga yang bukan hanya menyimpan tetapi juga menghormati, merawat, dan menyalurkan beras dengan rasa tanggung jawab. Seperti Suku Baduy menjaga leuit mereka, dengan hati dan kesadaran penuh, bahwa sebutir beras adalah kehidupan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar